Badong (jw.) Benda logam yang digunakan sebagai penutup kelamin wanita. Umumnya membentuk pola segitiga. Pada setiap sudut, atau setidaknya dua sudut diantaranya, memiliki lubang yang dapat dihubungkan dengan rantai atau tali pengikat.
Badong (jw.) Benda logam yang digunakan sebagai penutup kelamin wanita. Umumnya membentuk pola segitiga. Pada setiap sudut, atau setidaknya dua sudut diantaranya, memiliki lubang yang dapat dihubungkan dengan rantai atau tali pengikat.
BAHAN, Sumber daya alam atau sintetik yang digunakan oleh manusia untuk membuat benda-benda atau bangunan.
BAJU, Pakaian penutup badan bagian atas. Biasanya mempunyai lubang pada setiap sisinya untuk memasukkan tangan pemakainya, sebuah lagi di bagian tengah atas untuk memasukkan kepala. Dapat terbuat dari tekstil, kulit kayu, atau kulit hewan. Sering disebut sebagai kemeja. (Lihat: Pakaian, Kancing, dan Tekstil)
BAK, Unsur bangunan atau bangunan penampungan air, terbuat dari susunan tembok yang membentuk wadah terbuka. Biasanya bak dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah atau lantai. (Lihat: Kolam)
BALAI, Bangunan beratap tanpa dinding. Atapnya disangga oleh sejumlah tiang. Balai tidak digunakan sebagai tempat tinggal seperti halnya rumah, melainkan sebagai tempat pertemuan sehingga konstruksinya dibuat untuk menampung banyak orang. Nama lainnya adalah pendopo.
BANDUL, Benda yang dibuat untuk digantungkan pada seutas tali atau media lain berukuran panjang. Bandul dapat berfungsi sebagai pemberat (jaring), pemukul (lonceng), perhiasan (kalung), atau anting-anting
BANGKU, Tempat duduk tanpa sandaran. Sejenis bangku berukuran relatif kecil dan berkaki pendek disebut dingklik. (Lihat: Mebel, Kursi, dan Tempat Duduk)
BANGUNAN, Semua struktur yang dibuat untuk menampung kegiatan manusia atau berhubungan dengan kegiatan manusia, umumnya berukuran besar. Sifat bangunan umumnya selain berpola juga tidak dapat dipindah-pindahkan tanpa mengakibatkannya rusak. Jembatan, rumah, jalan, parit, sumur, tanggul, atau terowongan dapat digolongkan sebagai bangunan.
Berdasarkan susunannya, secara vertikal semua bagian bangunan yang berbentuk rumah atau gedung dari bawah hingga atas dapat dibedakan menjadi fondasi, kaki, badan, dan atap. Untuk bangunan bukan rumah atau gedung sistem pembagiannya dapat dinyatakan dengan dasar, tengah dan puncak. Khusus untuk bangunan candi pembagian itu dinyatakan dengan bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka. (Lihat: Fitur, Fondasi, dan Struktur).
Selain itu, bangunan itu sendiri dapat dibedakan menjadi bagian bangunan, komponen bangunan, dan unsur bangunan. Bagian bangunan adalah elemen terbesar dari sebuah bangunan, seperti ruang dapur, mihrab, atap, fondasi, kamar mandi, kamar tidur, atau gudang yang secara keseluruhan memberi bentuk khas pada bangunan. Komponen bangunan adalah elemen kedua yang hampir selalu ditemukan pada bangunan dan menjadi bagian dari bangunan, misalnya jendela, pintu, lubang angin, cerobong asap, lantai, bak mandi, atau dinding. Adapun unsur bangunan adalah elemen terkecil dari bangunan yang merupakan rincian dari komponen bangunan, misalnya daun jendela, bingkai pintu, ubin pada lantai, keran air, dan sebagainya.
Sebuah bangunan dapat mengambil bentuk bagian bangunan atau komponen bangunan. Misalnya, masjid yang berbentuk atap kubah sehingga sukar dibedakan antara kaki, badan, dan atap.
Dilihat dari segi kesuciannya, bangunan dapat dibedakan atas bangunan sakral, yaitu bangunan suci yang berhubungan dengan ritual keagamaan, dan bangunan profan atau bangunan biasa yang tidak digunakan atau berhubungan dengan keagamaan.
Di bawah ini tercantum berbagai jenis bangunan berdasarkan fungsi dan nama khusus yang diberikan kepadanya:
Bangunan air, bangunan yang dibuat untuk keperluan menampung, mengendalikan, dan mendapatkan air. (Lihat: Bendungan, Kolam, Perigi, atau Waduk)
Bangunan apung, bangunan yang dibuat di atas air dan selalu dalam keadaan terapung. Umumnya merupakan rumah tinggal tepian sungai, danau, atau laut.
Bangunan bawah tanah, bangunan yang seluruh strukturnya berada di bawah permukaan tanah.
Bangunan berundak, bangunan yang dibuat menyerupai susunan anak tangga, berteras, meninggi ke atas atau ke belakang. (Lihat: Punden)
Bangunan bertingkat, bangunan berlantai dua atau lebih yang disusun ke atas satu di atas lainnya.
Bangunan kubur, bangunan yang dibuat sebagai kuburan. (Lihat: Moselium)
Bangunan kolonial, bangunan bergaya arsitektur Eropa yang dibuat pada masa penjajahan.
Bangunan pertahanan, bangunan yang dibuat untuk kepentingan pertahanan dan tempat menghimpun kekuatan militer, misalnya benteng. (Lihat: Benteng atau Bunker)
Bangunan tradisional, bangunan bercorak khas yang dibuat oleh kelompok etnik atau sukubangsa tertentu. Sering diasosiasikan dengan bangunan-bangunan yang terbuat dari bahan kayu atau bambu.
Bangunan tempat tinggal, bangunan yang dibuat dan dipakai sebagai tempat tinggal manusia, dapat berupa rumah atau gedung. (Lihat: Gedung dan Rumah)
BARBOTIN (Ing.), Hiasan pada gerabah berupa lapisan slip yang tebal. (Lihat: Keramik dan Slip)
BASTION (Ing.), Bagian meruncing dari benteng yang menjorok keluar, atau bangunan pertahanan berukuran kecil sejenis benteng. (Lihat: Benteng)
BATA, Tanah liat bakar yang digunakan sebagai bahan bangunan, umumnya berbentuk segi empat dan digolongkan sebagai keramik. (Lihat: Adobe dan Keramik)
BUYUNG, Wadah tertutup untuk membawa air yang memiliki dasar membulat. Bagian leher buyung pada umumnya meninggi dan diakhiri dengan mulut berukuran besar. Kebanyakan buyung terbuat dari tembikar, ada pula yang terbuat dari logam. (Lihat: Periuk dan Tempayan)
BUSUR, Senjata terbuat dari kayu atau logam berbentuk lengkung, ujung-ujungnya dihubungkan dengan tali atau dawai untuk melontarkan anak panah. Busur yang digunakan untuk melontarkan anak panah disebut busur panah. (Lihat: Anak Panah)
BUNKER (Ing.), Bangunan pertahanan terdiri dari ruang-ruang tertutup yang sebagian atau seluruh strukturnya tertanam dalam tanah. Pada dinding bunker terdapat sejumlah jendela berukuran kecil sebagai lubang pengintaian dan tempat untuk melakukan penembakan. Hubungan keluar hanya dilayani oleh satu atau dua pintu. Bunker banyak didirikan pada Perang Dunia Kedua, umumnya terbuat dari konstruksi beton atau balok-balok kayu yang ditimbun tanah. (Lihat: Benteng)
BULLION (Ing.), Batangan logam yang dipakai sebagai bahan pembuatan uang logam. Pada masa lalu, bullion juga dipakai sebagai alat tukar seperti halnya uang. (Lihat: Ingot)
BUKIT KERANG, Gundukan sampah dapur berupa cangkang kerang dan siput yang membukit sebagai hasil penimbunan selama ratusan tahun. Nama lain bukit kerang adalah kjökkenmoddinger. Dari dalam bukit kerang sering ditemukan alat-alat purbakala seperti kapak batu, sudip, atau tulang binatang darat hasil buruan atau tulang berbagai jenis ikan. (Lihat: Kapak dan Sampah)
BUBUNGAN, Sejenis genteng pada bagian atap yang menyudut, yaitu pada pertemuan antara sisi-sisi yang berlawanan. Selain fungsi praktisnya untuk menghindari masuknya air dan sinar matahari pada bagian ini, bubungan juga sering dimanfaatkan sebagai hiasan untuk meningkatkan keindahan bangunan, yaitu dengan membuatnya menjadi bentuk-bentuk dekoratif yang khas. (Lihat: Atap dan Genteng)
BOTOL, Wadah kaca atau keramik berleher tinggi dengan mulut mengecil. Botol digunakan untuk menyimpan cairan atau benda-benda lain berukuran kecil. Untuk keperluan itu, botol sering dilengkapi dengan tutup atau sumbat pada bagian mulut. (Lihat: Ampora)
BONEKA, Benda mainan dalam bentuk manusia, hewan, atau yang menyerupai keduanya. Boneka umumnya berukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa, disebut juga golek atau golekan.
BOLA, Barang bulat atau barang yang bentuknya menyerupai bulatan yang dibuat dari karet dan sebagainya untuk bermain-main.
BOKOR, Wadah keramik atau logam sejenis mangkuk berukuran besar. Bokor dapat memiliki kaki dapat pula tidak, umumnya memiliki mulut yang diameternya mendekati diameter bagian kaki. Sejenis bokor yang dipakai sebagai wadah penginangan disebut cerana. (Lihat: Mangkuk dan Penginangan)
BOAT (Ing.), Wadah cairan berbentuk mirip cangkir tetapi lebih panjang dan memiliki bentuk mulut yang lonjong. Sisi dihadapan tangkai dibuat meninggi dan menyempit sehingga membentuk saluran. Boat, atau sauce boat, umumnya dibuat berkaki rendah dan tidak dilengkapi tutup. (Lihat: Cangkir)
BLOK BATU, Batu-batu bahan bangunan yang dibentuk persegi, terutama segi empat. Banyak digunakan pada bangunan candi atau benteng. (Lihat: Batu Kunci)
BINGKAI, Pembatas yang digunakan untuk membedakan suatu bidang permukaan dengan bidang permukaan lain, atau rangka yang dipasang mengelilingi suatu benda dan berfungsi sebagai penguat. Bingkai dapat berupa susunan kayu atau batu, bisa pula merupakan pahatan, goresan, atau garis yang membatasi suatu permukaan. Pada bangunan candi, pengertian bingkai dapat dihubungkan dengan bentuk batu-batu atau bata-bata yang tersusun menjadi bagian kaki. Setiap bingkai dapat memiliki bentuk berbeda dalam susunan itu sehingga secara keseluruhan akan membentuk profil kaki candi. (Lihat: Pelipit)
BILIK BATU, Bangunan kubur tradisi megalitik berbentuk bilik dengan dinding-dinding terbuat dari batu. Bilik batu ditempatkan di dalam tanah dan biasanya memiliki pintu masuk khusus di bagian depan, disebut juga stone chamber. (Lihat: Dolmen dan Peti Kubur)
BILIK, Ruangan kecil yang terdapat pada bangunan atau bisa berarti dinding anyaman yang terbuat dari bambu. Nama lain untuk dinding anyaman ini adalah gedek, tepas, atau sasak sedangkan untuk kata ganti ruangan ialah kamar. (Lihat: Bangunan)
BIARA, Bangunan tempat tinggal pendeta pada lingkungan kompleks keagamaan Hindu, Buddha, atau Katolik. (Lihat: Candi)
BIA (Mdn.), Alat tiup sejenis terompet yang terbuat dari cangkang siput berukuran besar. Banyak digunakan di Indonesia Wilayah Timur
BENTENG, Bangunan pertahanan dengan tembok-tembok tinggi, atau berupa gundukan tanah yang kuat dalam posisi memanjang atau melingkar. Kadang-kadang benteng dilengkapi dengan parit yang mengelilinginya. Selain untuk kepentingan pertahanan, benteng acapkali digunakan pula sebagai tempat tinggal atau bahkan menjadi batas sebuah kota. Nama lain dari benteng adalah kuto, kuta, koto, atau kota. (Lihat: Bastion dan Bunker)
BENDUNGAN, Bangunan air yang dibuat melintang pada batang sungai atau parit. Bendungan berfungsi untuk menahan, mengumpulkan, dan mengendalikan air dalam jumlah banyak. (Lihat: Tanggul dan Waduk)
BENDA KUBUR, Benda-benda yang memiliki hubungan dengan bangunan kubur atau tradisi penguburan, seperti nisan atau arca. Bekal kubur dapat digolongkan sebagai benda kubur. (Lihat: Kuburan dan Bekal Kubur)
BENANG, Serat hasil pemintalan serabut tumbuh-tumbuhan atau bulu hewan. Umumnya benang dipakai sebagai bahan dasar tekstil. (Lihat: Serat dan Tekstil)
BELIUNG, Alat batu atau logam mirip kapak yang digunakan secara melintang untuk kegiatan membongkar tanah atau membelah batang kayu. Beliung memiliki penampilan ramping dengan bagian tajaman terletak secara melintang di salah satu ujungnya. Sejenis beliung yang berpunggung tinggi dan tebal disebut belincung. (Lihat: Kapak)
BELENCONG (Jw.), Pelita gantung yang ditempatkan di belakang layar sebagai penerang pada pertunjukan wayang kulit, disebut juga damar.
BELANGA, Wadah tertutup berbentuk membulat dengan leher rendah dan mulut terbuka lebar. Bagian dasar belanga pada biasanya cembung dan tidak memiliki kaki. Belanga umumnya terbuat dari tembikar. (Lihat: Buyung dan Kendil)
BEKAL KUBUR, Benda-benda organik dan anorganik yang ditempatkan di dalam kubur sebagai penyerta jenazah. Bekal kubur dapat berupa barang-barang yang menjadi milik pribadi si mati atau sesuatu yang diasosiasikan secara simbolik sebagai bekal perjalanan arwah menuju alam baka. (Lihat: Persembahan Kubur)
BEJANA, Wadah yang berfungsi sebagai tempat menyimpan atau menampung sesuatu. Bejana umumnya berbentuk silindrik, lingkar mulutnya sama atau mendekati sama dengan lingkar bagian dasar. (Lihat: Wadah)
BATUR, Bagian bawah bangunan balai yang terbuat dari susunan blok-blok batu atau bata. Biasanya berdenah segi empat, rendah, dengan permukaan datar. Banyak ditemukan pada kompleks candi atau pura. (Lihat: Balai)
BATU TEGAK, Peninggalan tradisi megalitik berupa tiang batu yang ditancapkan dalam posisi tegak. Sering diasosiasikan dengan bangunan pemujaan, walaupun bukan sebagai objek yang dipuja seperti halnya menhir. (Lihat: Menhir)
BATU SAJI, Altar batu peninggalan tradisi megalitik. Konstruksinya terbuat dari sebuah batu datar berukuran besar yang ditopang oleh beberapa batu berukuran lebih kecil. Batu saji sering dihubungkan dengan pemujaan. (Lihat: Altar dan Dolmen)
BATU MARTIL, Alat penetak yang dipakai dalam pembuatan perkakas batu. Biasanya mempunyai bidang membulat dan dapat digenggam tangan. (Lihat: Serpih)
BATU KUNCI, Batu-batu berbentuk khusus yang berfungsi sebagai penyambung blok-blok batu. Gunanya untuk menjaga agar blok batu yang disambung tidak bergeser dari kedudukan-nya. Sering ditemukan pada bangunan-bangunan candi. (Lihat: Blok Batu)
BATU KENONG, Batu berbentuk membulat dengan tonjolan di puncaknya, menyerupai alat musik kenong. Peninggalan ini berasal dari tradisi megalitik dan masih dibuat hingga masa klasik. (Lihat: Kenong)
BATU KANDANG, Bangunan tradisi megalitik terbuat dari susunan batu-batu besar tanpa atap yang membentuk denah persegi empat atau mendekati lingkaran. Nama lainnya yaitu stone circle. (Lihat: Bilik Batu)
BATU INTI, Batu kerakal atau serpihan besar yang menjadi bahan pembuat alat batu. (Lihat: Serpihan)